Terkait dengan keagungan bulan Ramadhan Rasulullah saw bersabda:
Artinya: Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan, maka hendaklah kita mengucapkan selamat datang kepada nya. Telah datang bulan puasa membawa segala rupa keberkatan. Maka alangkah mulianya tamu yang datang itu. [1]
Merujuk kepada hadits diatas jelas dan teranglah, dimana bulan Ramadhan bukan hanya sekedar salah satu dari nama bulan Hijriyah yang 12 belas dalam satu tahun. Tapi sebagaimana disebutkan dalam hadits tersebut bahwa Ramadhan adalah bulan puasa membawa segala rupa keberkatan.
Diantara berkah Ramadhan tersebut adalah sebagaimana yang dijanjikan Allah lewat hadits sebagaimana sabda Rasulullahﷺ yang berbunyi;
Artinya: Dari Salman, katanya “ Rasulullah ﷺ berkhutbah kepada kami di akhir bulan Sya’ban, kata beliau: hai manusia (maksudnya para sahabat) bulan yang mulia telah mengunjungi mu, bulan yang penuh berkah, yang didalamnya terdapat 1) satu malam yang nilainya (beribadah padanya) lebih berharga dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa padanya bulan itu sebagai suatu kewajiban, beribadah sunat padanya merupakan amalan sunat yang amat mulia. 2) Siapa yang mendekatkan diri dengan amal-amal sunat dimalam itu kepada Allah, pahalanya bagaikan pahala beramal wajib dibulan lain. Siapa yang beramal wajib dimalam itu, pahalanya bagaikan beramal tujuh puluh kali dibulan lainnya. Ramadhan adalah bulan kesaba ran, 3) pahala bagi orang yang sabar adalah surga. disebut juga bulan….bulan Allah menambah rezki seorang mukmin, 4) siapa yang memberi buka puasa, jadilah hal itu akan menjadi penghapus bagi dosanya, dan akan membebaskan dirinya dari api neraka. Dengan itu ia akan mendapatkan pahala puasa sebesar apa yang didapatkan oleh yang diberi buka puasa, tanpa mengurangi pahala puasa dari orang yang diberi buka puasa. Mereka berkata (kepada Rasul ﷺ ) tidak semua kita punya sesuatu yang dapat diberikan kepada yang berpuasa ? kata Rasul ﷺ, Allah akan memberikan ganjaran tambahan ganjaran satu pahala ini walau hanya berupa satu butir kurma, atau seteguk air atau susu. Ramadhan sepertiga awal adalah (hari-hari yang penuh) rahmah, seperti pertengahan adalah (hari-hari yang penuh) keampunan, dan sepertiga terakhir adalah (hari-hari) pembebasan dari neraka. 5) Siapa yang meringankan bebeban para pekerjanya (selama puasa Ramadhan ini) Allah akan berikan keampunan baginya dan membe baskannya dari neraka. Perbanyak lah padanya (di bulan Ramadhan ini) empat macam ibadah, yang dua hal akan menjadikan redha Allah Tuhanmu, yakni membaca syahadat Allah dan istigfar kepada-Nya. Adapun dua lagi agar dengan nya Allah mengayakan kamu meminta surga dan berlindung kepada Allah dari neraka. Siapa yang mengenyangkan orang yang puasa (memberi buka puasa secukup nya) Allah akan memberinya minum dari telaga minuman sehingga ia tidak akan haus hingga masuk surga.[2]
Bagaimana Rasulullah menyambut Ramadhan.
Aisha berkata: “Rasulullah biasa berpuasa sampai kami mengatakan dia tidak berbuka puasa dan berbuka sampai kita mengatakan dia tidak berpuasa, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah menyelesaikan puasa sebulan kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihatnya lebih banyak puasa di bulan lain daripada di bulan Sya’ban.”
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, dan dalam sebuah riwayat oleh Muslim: “Dia biasa berpuasa sepanjang Shaban, dia biasa berpuasa Shaban kecuali sedikit. ”Sekelompok ulama, termasuk Ibn al-Mubarak dan lainnya, menyarankan bahwa Nabi, semoga berkah dan damai besertanya, tidak menyelesaikan puasa Shaban, melainkan dia biasa berpuasa sebagian besar.
Usama bin Zaid, berkata: Saya berkata, Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa di salah satu bulan Anda berpuasa dari Syaban, jadi dia berkata: “Itu adalah bulan yang dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, dan bulan yang dinaikkan amalnya kepada Tuhan semesta alam, dan aku suka diangkatnya amal ku saat aku berpuasa. ”
Nabi Muhammad SAW, menunjukkan bahwa Sya’ban datang di antara dua bulan besar, yaitu bulan suci Rajab dan bulan puasa, Ramadhan, dan bahwa orang sering disibukkan dengannya dan mengabaikan Sya’ban. Inilah yang membedakan orang pintar, bahwa mereka berpikir seperti orang berpikir, tetapi mereka tidak melupakan atau mengabaikan cara orang lain mengabaikan sesuatu.
Salah satu hikmah Rasulullah mendahului Ramadhan dengan puasa-puasa sunat, hingga nyaris penuh puasa beliau di bulan Sya’ban lebih sifatnya pemanasan sebagaimana umum latihan dilakukan para atlis khususnya sebelum datang hari pertandingan dan perlombaan. Agar begitu datang Ramadhan ada rasa canggung hingga tres dalam melaksanakan puasa dimaksud walau nonstop satu bulan lamanya. Untuk Rasulullah saw tentu tidak tepat kita katakan kalau puasa Sya’ban beliau adalah untuk pemanasan, tapi untuk kita sangat tepat bila juga dijadikan sebagai ajang pemanasan jelang puasa di bulan Ramadhan itu sendiri.
Cara Sahabat Rasulullah menyambut Ramadhan.
Betapa seriusnya para Sahabat dan Tabiin memandang Ramadhan dapat kita lihat dalam catatan Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab legendarisnya, Lathaif Al-Ma’arif. Beliau menukil perkataan seorang ulama Tabiin terkemuka, Mualla bin Al-Fadhl rahimahullah, yang menceritakan kebiasaan para pendahulunya:
Artinya: “Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.”
Perkataan tersebut menyiratkan bahwa bagi para Sahabat, satu tahun kalender hijriah itu isinya hanya tentang Ramadhan. Hidup mereka terbagi menjadi dua fase besar:
– Fase Cemas (Khauf): Enam bulan pasca-Ramadhan (Syawal hingga Rabiul Awal), mereka cemas apakah puasa dan tarawih mereka diterima Allah atau tidak.
– Fase Harap (Raja’): Enam bulan pra-Ramadhan (Rabiul Akhir hingga Sya’ban), mereka penuh harap memohon umur panjang agar sampai ke Ramadhan berikutnya.
Bagaimana salafussaleh menyambut Ramadhan
Salafus shalih (generasi terdahulu yang saleh) menyambut Ramadhan dengan penuh kerinduan, persiapan matang, dan doa intensif sejak bulan Rajab dan Sya’ban. Mereka memohon umur panjang untuk bertemu Ramadhan, bertaubat nasuha, memperbanyak puasa sunnah, serta membersihkan jiwa agar siap beribadah maksimal, menjadikan bulan ini momen titik balik perbaikan diri.
Semoga gambaran Rasululullah, para sahabat dan salafussaleh dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan, kiranya menginsiprasi bagi kita semua untuk melakukan hal yang sama. Karena pada hakikatnya berkah Ramadhan yang mereka harapkan adalah juga menjadi harapan kita semua. Demikian semoga bermanfaat.
[1] Riwayat Imam Nasai
[2] Shahih Ibnu Huzaimah no. 1780













