Bersamaan dengan tanggal 25 Agustus 2026
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran (3) : 164.
Tulisan kita dalam rangka peringatan mauled nabi Muhammad SAW kali ini refleksi kehidupan Jahiliyah di zaman yang disebut Jahilyah dari umat yang hidup dizaman era zaman itu, baik yang terkandung dalam al-Qur’an maupun yang terdapat pada hadits Rasulullah SAW.
Jahiliyah menurut bahasa berarti kebodohan, sedangkan menurut istilah adalah masa kebodohan yang secara khusus terjadi ketika Islam belum datang. Dalam al-Qur’an, ayat-ayat yang mempergunakan kata Jahiliyyah itu terdapat pada 4 tempat :
Pertama, dengan sebutan Dzannu al Jahiliyyah.
Ayat terkait tercantum pada ayat berikut:
Artinya: “ kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini ?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. mereka Menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini ( dalam peperangan ini ) “. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati.” QS. Ali Imran (3):154.
Ayat ini mengisahkan tentang peristiwa yang terjadi setelah perang Uhud. Akibat terpepet dalam perang tersebut, umat Islam terpecah menjadi dua kelompok, pertama golongan yang menyadari bahwa kekalahan itu disebabkan ketidak disiplinan terhadap perintah Rasulullah saw, namun mereka tetap berharap kiranya Allah menurunkan pertolongan. Dan ternyata benar, Allah menurunkan rasa mengantuk yang bersangatan kepada mereka, sehingga semua pada tertidur beberapa lama. Setelah terbangun, tenaga dan semangat mereka pulih kembali. Sementara golongan kedua justru membuat dugaan yang tidak-tidak, seperti sangkaan “kalau Muhammad itu benar-benar nabi dan rasul, tentu ia dan sahabat-sahabatnya tidak akan kalah dalam berperang”. Inilah yang disebut Zannu Al-Jahiliyyah (sangkaan Jahiliyyah).
Artinya dalam kasus ini golongan kedua ini, bukannya meminta ampun atas ketidak disiplinan mereka yang menjadi sebab kemenangan perang nyaris berpihak kepada musuh, justru mereka menyalahkan Rasulullah yang tidak becus mengatur strategi perang hingga Allah sendiri.
Jadi kalau ada orang hari ini yang berprasangka negatif terhadap Rasulullah saw hingga Allah beserta sahabat pengkut-pengikutnya (orang-orang beriman) dalam berbagai bentuk hingga sekarang, berarti ia masih berfikiran Jahiliyyah. Sifat mukmin sebagai lawan Zannu al Jahiliyyah idealnya yang semestinya dimiliki oleh semua muslim tanpa kecuali adalah yang disebut Dzan al-Islamiyyah, yakni berbaik sangka terhadap Rasulullah saw hingga sesama mukmin, seperti diingatkan Allah dalam Firman-Nya :
Artinya: “ Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan mengapa mereka tidak berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” QS. an-Nur (24):12.
Ayat QS. an-Nur (24):12 terkait dengan tuduhan sekelompok orang/ sahabat juga yang menuduh Aisya istri Rasulullah saw sudah melakukan selingkuh dengan salah seorang sahabat, padahal tidak ada Aisyah melakukan selingkuh sama sekali, sebagaimana dituduhkan tersebut.
Kepentingan berbaik sangka apalagi kepada Allah terlihat dalam dalil berikut;
Surat Al-Hujurat Ayat 12: Allah SWT melarang orang beriman dari banyak prasangka karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa, serta melarang mencari-cari kesalahan orang lain.
Hadis Nabi SAW: Rasulullah SAW bersabda bahwa prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, dan beliau meminta umatnya untuk saling bersaudara tanpa saling membenci atau memata-matai
Kedua, dengan sebutan Hukmu al Jahiliyyah.
Kata hukmu al-Jahiliyah tersebut ditemukan pada ayat 50 Surat Al-Maidah (5) sebagaimana berikut
Artinya:“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”.
Dalam al-Qur’an menyebutkan bahwa praktek hukum di zaman Jahiliyyah sangat tidak adil, istilah “ hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah “ betul-betul terjadi saat itu. hukum hanya berlaku untuk kalangan bawahan, rakyat biasa dan orang-orang lemah. Hal ini sebagaimana asbabun nuzul dari ayat di atas. Singkat cerita, dimana kaum Bani Nazir mengajukan sebuah persoalan hukum atas sebuah perkara mereka dengan suku lain dari Bani Quraizhah kepada Rasulullah. Tapi anehnya kaum Bani Nazir ini minta diputuskan dengan hukum sebagaimana berlaku di zaman jahiliyyah. Kenapa mereka minta hukum jahiliyyah? Karena dengan hukum jahiliyyah mereka akan berada pada pihak yang diuntungkan, maka turunlah ayat :50 Surat Al-Maidah.
Sementara dalam syari’at Islam manusia sama dalam pandangan hukum (QS. 5:8), tidak ada jual beli hukum (QS. 2:188). Rasulullah pernah bersabda:
Artinya:“ Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, saya sendiri yang akan memotong tangannya.” Shahih Bukhari no. 3216
Jadi jika hukum hari ini masih bersifat pandang bulu, maka itu artinya hukum yang berlaku masih hukum jahiliyyah, belum lagi hukum diatas keadilan walau kita meskipun usia Republik sudah 81 tahun.
Ketiga, dengan sebutan Hammiyah al Jahiliyyah,
Ayat terkait terdapat di QS. Al-Fath (48):26.sebagai mana ayat berikut:
Artinya:“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombo ngan Jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”.
Asbabun nuzul ayat ini berkenaan dengan keengganan kaum kafir Quraisy menuliskan kalimat basmalah (bismillahir rahmanirrahim) pada pembukaan surat Perjanjian Hudai biyyah. Kebencian mereka kepada Nabi Muhammad saw, menghalangi mereka menerima segala kebenaran. Dalam hal ini kita ingat dengan sabda Rasulullah saw yang berbunyi :
Artinya:“Sikap sombong menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”. Shahih Muslim no. 131
Sementara dalam Islam, masalah kebenaran dan kebaikan terbuka datangnya dari siapa saja. Hal ini sejalan dengan kata imam Imam Ali ra :
Artinya: “Perhatikanlah apa yang dikatakan seseorang dan jangan perhatikan siapa yang mengatakannya.”
Artinya bila yang dikatakan itu benar jangan pandang dari siapa datangnya, sekalipun dari oaring yang seagama dengan kita. dan sebaliknya kalau salah wajib ditolak, meski datangnya dari orang yang paling dekat seperti dari keluarga sendiri.
Keempat, dengan sebutan Tabarruj;
Ayat terkait kita dapatkan pada QS. al-Ahzab ayat 33.
Artinya: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya
Larangan bergaya seperti Jahiliyyah itu secara khusus memang ditujukan kepada istri-istri Nabi saw, namun secara umum berlaku untuk seluruh muslim lebih khusus para wanitanya. Diantara praktek tabarruj jahiliyyah itu antara lain, kalau berjalan merentak-rentakkan kakinya agar terdengar dan terlihat perhiasan yang dipakainya (QS. 24:31), kalau berpakaian tidak menutup aurat, seperti pakaian ketat, tipis (tembus pandang), atau setengah telanjang. Rasul saw mengingatkan :
Artinya:“Ada 2 golongan dari ahli neraka yang belum pernah aku lihat 1. Orang (pemimpin) yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pakai untuk mencambuk manusia. 2. Wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung ia kepada perbuatan maksiat dan ia mencenderungkan orang lain kepada maksiat. Rambutnya seperti punuk unta. Mereka ini tidak akan bias masuk surga bahkan tidak dapat mencium baunya. Padahal bau surge itu dapat tercium dari kejauhan 40 tahun perjalanan.” Shahih Muslim no. 3971.
Demikianlah bentuk-bentuk kejahiliyahan yang telah direformasi oleh Rasulullah saw dimasa hidup beliau. Mungkin kerena dimakan usia atau lantaran hubbud dunya (cinta dunia), sehingga sekarang sepertinya perilaku jahiliyah itu kembali menodai syari’at islam dan umatnya. Perlu diingat bila kejahiliyahan itu terjadi di zaman sebelum kedatangan Islam tentu sangat masuk akal, karena mereka belum mendapatkan petunjuk, sangat juga mereka tidak menerima azab dari perilaku mereka itu. Tapi bila perilaku jahiliyah itu kembali hadir hari ini, khususnya bagi umat Islam, disaat al-Qur’an dan hadits ada di tengah-tengah kita, itu artinya jahiliyah modern, karena perilakunya jahiliyah tapi dilakukan di zaman modern. Maka tentu sangat miris, karena prilaku ini merupakan pembangkangan nyata kepada Allah dan agama-Nya, yang pantas diganjar dengan hukuman yang setimpal.
Mudah-mudahan momen peringatan Maulid Nabi tahun ini, menyadarkan setiap kita untuk segera kembali kepada sunnah yang ditinggalkan Rasulullah saw. demi keselamatan dunia dan akhirat. Wallahu a”lam bish Shawab, semoga bermanfaat.
Sulfa, SS, Wakil Mudir












