Berita dan Informasi

PERINGATAN HARI KARTINI

Sejak kapan tanggal 21 Juni ditetapkan sebagai Hari Kartini ?

Hari Kartini ditetapkan sejak tahun 1964 melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964, yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno pada tanggal 2 Mei 1964. Keppres ini menetapkan RA Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan memerintahkan hari lahirnya, 21 April, sebagai hari besar nasional setiap tahunnya.

Apa dasar sosiologi penetapan Kartini dijadikan hari besar Nasional ?

Dasar sosiologis penetapan Raden Adjeng Kartini (RA Kartini) sebagai hari besar nasional pada tanggal 21 April, didasari atas kebutuhan untuk mengakui dan menginstitusionalkan perjuangan emansipasi perempuan dalam struktur sosial Indonesia yang baru merdeka. Perjuangan emansipasi perempuan yang dipelopori oleh R.A. Kartini sangat hebat, fundamental, dan visioner, terutama jika melihat konteks zamannya di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kartini merintis jalan bagi perempuan pribumi untuk keluar dari kungkungan budaya patriarki yang ketat, di mana saat itu perempuan dibatasi untuk bersekolah dan hanya dipersiapkan untuk menikah muda. Gerakannya tidak lebih dari 3 rutinitas yakni kasur, sumur dan dapur yang dilakukan secara kaku yang dilakukan berulang ulang setiap hari.

Apa bentuk nyata perjuangan kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita ?

Bentuk nyata perjuangan R.A. Kartini dalam emansipasi wanita meliputi mendirikan sekolah khusus perempuan di Jepara untuk mengajarkan keterampilan dan ilmu pengetahuan, serta aktif menulis surat-surat kepada teman-temannya di Belanda (seperti Rosa Abendanon) yang berisi pemikiran progresif mengenai kesetaraan, penolakan pernikahan paksa/poligami, dan kebebasan perempuan.

RA Kartini mendirikan sekolah khusus perempuan pertama di Jepara pada bulan Juni 1903. Sekolah ini didirikan di kompleks Pendopo Kabupaten Jepara, ditujukan untuk anak-anak gadis dengan mengajarkan keterampilan dasar seperti baca-tulis, berhitung, dan kerajinan tangan.

Apa landasan kultural dan historis penetapan hari lahir Raden Ajeng (R.A.) sebagai sebagai hari besar nasional ?

Landasan kultural dan historis penetapan Raden Ajeng (R.A.) Kartini sebagai hari besar nasional, yang diperingati setiap 21 April, berakar pada penghormatan terhadap perjuangan beliau dalam emansipasi perempuan dan kesetaraan gender di Indonesia.

Apakah hanya RA Kartini satu satunya wanita Indonesia saat itu ?

RA Kartini bukanlah satu-satunya wanita di Indonesia saat itu. RA Kartini dikenal sebagai salah satu pelopor utama melalui gagasan dan surat-suratnya mengenai pendidikan dan kesetaraan derajat. Meskipun Kartini adalah pelopor emansipasi wanita yang paling menonjol pada masanya (1879–1904), terdapat tokoh-tokoh kartini-kartini lain yang juga berjuang untuk pendidikan dan hak wanita di era yang hampir sama dan bersamaan. Beberapa tokoh perjuangan perempuan lainnya di masa tersebut antara lain:

Dewi Sartika. Raden Dewi Sartika (1884–1947) adalah pahlawan nasional perintis pendidikan perempuan, lahir dari keluarga bangsawan Sunda di Cicalengka, Bandung, pada 4 Desember 1884..

Berikut adalah poin-poin utama yang dilakukan Dewi Sartika:

  1. Mendirikan Sakola Istri: Pada 16 Januari 1904, ia mendirikan sekolah khusus perempuan pertama di Hindia Belanda yang berlokasi di Bandung.
  2. Mengajar Keterampilan: Selain akademik, ia mengajarkan keterampilan praktis seperti menjahit, merenda, memasak, dan menyulam kepada kaum perempuan agar mandiri.
  3. Memajukan Pendidikan Perempuan: Ia gigih berjuang melawan stigma bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi, sehingga membuka akses pendidikan bagi ribuan perempuan Sunda.
  4. Merintis Sekolah Sejak Dini: Semangat pendidikannya terlihat sejak kecil, di mana ia sering bermain “sekolah-sekolahan” dan mengajarkan bahasa Belanda serta baca-tulis kepada anak-anak pelayan di rumah pamannya

Berdasarkan dedikasinya Dewi Sartika adalah Pahlawan Nasional Indonesia yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 252 Tahun 1966 tanggal 1 Desember 1966 (beberapa sumber menyebutkan SK No. 76 Tahun 1966). Beliau diakui atas jasanya sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan pribumi pada masa penjajahan Belanda

Rohana Kudus. Rohana Kudus (1884–1972) adalah wartawati pertama Indonesia, tokoh emansipasi perempuan, dan Pahlawan Nasional kelahiran Koto Gadang, Sumatera BaratJurnalis perempuan pertama Indonesia yang berjuang melalui tulisan dan mendirikan sekolah kerajinan perempuan.

Rohana Kudus, yang hidup sezaman dengan Kartini, adalah tokoh emansipasi perempuan, wartawati pertama, dan pendidik asal Sumatra Barat. Ia berjuang melalui pendidikan dan jurnalistik untuk memajukan perempuan, termasuk mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan surat kabar perempuan Soenting Melajoe (1912).

Berikut adalah aksi nyata Rohana Kudus di masanya:

  1. Mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia: Pada tahun 1911, ia mendirikan sekolah ini di Koto Gadang, yang bertujuan memberdayakan perempuan Minangkabau melalui keterampilan baca-tulis, menjahit, menyulam, dan manajemen keuangan.
  2. Wartawati Pertama dan Mendirikan Soenting Melajoe: Ia menerbitkan surat kabar Soenting Melajoe pada tahun 1912, yang tercatat sebagai surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Melalui surat kabar ini, ia mengedukasi perempuan untuk berani bersuara dan berpikir kritis.
  3. Menulis di Berbagai Media: Rohana aktif menulis untuk berbagai surat kabar lain seperti Poetri Hindia, Fajar Asia, dan Perempoean Bergerak untuk menyuarakan emansipasi dan hak-hak perempuan.
  4. Mendorong Kemandirian Ekonomi: Melalui Kerajinan Amai Setia, ia tidak hanya mengajar, tetapi juga membantu perempuan menjual hasil kerajinan mereka ke Eropa, mendorong kemandirian finansial.
  5. Pendidik dan Aktivis: Rohana dikenal sebagai guru yang cerdas sejak usia muda, menggunakan kemampuannya untuk mendidik kaum perempuan agar keluar dari keterbatasan akses pendidikan saat itu. Perjuangan Rohana fokus pada pemberdayaan perempuan melalui pendidikan formal dan literasi, menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah pergerakan perempuan Indonesia.

Rohana Kudus ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada 8 November 2019. Penetapan ini didasarkan pada Keputusan Presiden No. 120/TK/Tahun 2019, sebagai bentuk pengakuan atas jasa-jasanya sebagai wartawan perempuan pertama Indonesia dan pelopor pendidikan bagi kaum perempuan.

Tjoet Nja’ Dhien.   Pahlawan wanita dari Aceh yang aktif berperang melawan penjajah Belanda. Cut Nyak Dien (1848–1908) adalah pahlawan nasional wanita dari Aceh yang memimpin perlawanan gerilya melawan Belanda dalam Perang Aceh. Ia memimpin pasukan, mengatur strategi perang di hutan, dan melanjutkan perjuangan suaminya, Teuku Umar, dengan tekad pantang menyerah meski dalam kondisi tua, rabun, dan sakit-sakitan hingga akhirnya ditangkap dan diasingkan.

Berikut adalah hal-hal yang dilakukan Cut Nyak Dien di masanya:

  1. Memimpin Perlawanan Gerilya: Setelah suaminya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, gugur (1878) dan kemudian Teuku Umar gugur (1899), Cut Nyak Dien mengambil alih komando perlawanan di pedalaman Meulaboh. Taktik Perang “Hit and Run”: Ia menerapkan taktik gerilya, menyerang pos-pos Belanda secara tiba-tiba lalu menghilang ke dalam hutan, membuat pasukan Belanda kewalahan.
  2. Membangun Basis Perlawanan: Bersama Teuku Umar, ia mengatur siasat perlawanan dari rumah mereka di Aceh Besar dan menjalin kerja sama dengan pejuang lain.
  3. Menolak Menyerah: Meskipun pasukannya semakin sedikit, sulit mendapatkan makanan, dan kondisi fisiknya melemah (rabun dan encok), ia tetap bergerilya di hutan. Simbol Semangat Aceh: Ia menjadi inspirasi dan simbol perlawanan rakyat Aceh, sering dijuluki “Ratu Aceh” karena keberaniannya yang tak gentar melawan penjajah. Ditangkap dan Diasingkan: Pada tahun 1901, pasukannya dikalahkan, dan ia ditangkap oleh Belanda setelah salah satu orang kepercayaannya, Pang Laot, melaporkan lokasinya karena iba. Ia diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, hingga wafat pada 6 November 1908. Perjuangannya mencerminkan kegigihan luar biasa seorang wanita di tengah penindasan kolonial Belanda.

Cut Nyak Dien ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Soekarno pada tanggal 2 Mei 1964. Penetapan ini berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 106 Tahun 1964 sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangan gigihnya memimpin pasukan gerilya melawan Belanda di Aceh.

Rahmah Elyunisiyah. Rahmah El Yunusiyah (1900–1969) adalah reformator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan asal Sumatera Barat yang mendirikan Diniyah Putri (1923) di Padang Panjang, sekolah khusus perempuan pertama di Indonesia/Asia Tenggara. Ia memelopori kurikulum mandiri untuk perempuan, melawan penjajahan, dan menjadi tokoh politik (anggota DPR). Berikut adalah hal-hal utama yang dilakukan Rahmah El Yunusiyah di masanya:

  1. Pendidikan (Diniyah Putri): Mendirikan Diniyah School Putri (1 November 1923) di Padang Panjang, yang kemudian berkembang menjadi perguruan dari tingkat dasar hingga tinggi, termasuk Kulliyat al-Mu’allimat al-Islamiyyah.
  2. Pemberantasan Buta Aksara: Mendirikan Sekolah Menyesal (1925) untuk memberantas buta huruf bagi perempuan dewasa/ibu-ibu muda Minang.
  3. Pemberdayaan Perempuan: Melalui Diniyah Putri, ia menanamkan kemandirian, kekuatan keimanan, dan keterampilan praktis (seperti sekolah tenun) agar perempuan tidak hanya cerdas intelektual tapi juga berjiwa pemimpin. 
  4. Memelopori unit perbekalan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang.
  5. Menjadikan Diniyah Putri sebagai dapur umum dan tempat persembunyian gerilyawan (Laskar Sabilillah/Hizbullah).
  6. Mengibarkan bendera Merah Putih pertama di Padang Panjang.
  7. Aktif dalam pergerakan melawan Belanda dan Jepang, pernah ditangkap tahun 1949, serta menjadi anggota parlemen/DPR-RI dari partai Masyumi.
  8. Pengakuan Internasional: Konsep pendidikannya menginspirasi Universitas Al-Azhar di Mesir untuk mendirikan fakultas khusus perempuan, dan ia dianugerahi gelar Syaikhah oleh Al-Azhar pada 1957.  Ia diakui sebagai salah satu pahlawan nasional bidang pendidikan Islam.

Rahmah El Yunusiyah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025. Penganugerahan gelar ini berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 116/TK/Tahun 2025 sebagai bentuk pengakuan atas jasanya dalam pendidikan perempuan dan perjuangan kemerdekaan

Dengan demikian tahulah kita, ternyata RA Kartini bukan satu-satunya wanita terbaik bangsa di masanya. Dari sekian kartika nasional berasal dari Sumatera Barat yakni Rohana Kudus dan Rahmah Elyunusiah.

Demikian, semoga bermanfaat dan menginspirasi bagi kalangan wanita muda di era digital dewasa ini.

Ditulis oleh

 Ustadz SULFA,SS

Wadir Ponpes Mu’allimin Muhammadiyah

Sawah Dangka – Kecamatan Tilatang Kamang –

Kabupaten Agam – Sumatera Barat

Dirangkum dari berbagai sumber.

Post A Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses